Reniati berjuang menghidupi kedua anaknya seorang diri setelah sang suami meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya, Reniati mengandalkan penghasilan dari berjualan pupuk kompos berbahan kotoran ternak dan bibit bunga yang dipelajarinya secara otodidak melalui YouTube serta berbagai sumber lainnya.

Usaha tersebut menjadi satu-satunya sumber penghasilan Reniati. Namun, pendapatan yang diperoleh setiap harinya tidak menentu. Ketika dagangannya laku, ia bisa mendapatkan penghasilan hingga sekitar Rp100 ribu dalam sehari. Namun, pada hari-hari sepi, penghasilannya hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.

Bahkan, tidak jarang Reniati tidak memperoleh penghasilan sama sekali selama beberapa hari berturut-turut. Kondisi cuaca yang kurang mendukung juga turut memengaruhi minat masyarakat untuk membeli pupuk dan bibit yang dijualnya.

Di tengah keterbatasan ekonomi tersebut, Reniati terus berusaha memenuhi kebutuhan kedua anaknya. Tidak jarang, ia harus mengesampingkan kebutuhan lain agar kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari anak-anaknya tetap terpenuhi.

Kini, kedua anak Reniati akan menempuh jenjang sekolah menengah akhir. Bagi Reniati, pendidikan adalah harapan agar anak-anaknya dapat memiliki masa depan yang lebih baik. Namun, biaya pendidikan menjadi tantangan yang cukup berat di tengah penghasilan yang tidak menentu.

Demi memastikan anak-anaknya tetap dapat melanjutkan pendidikan, Reniati telah mengajukan bantuan pendidikan kepada Dompet Dhuafa Singgalang. Ia berharap adanya dukungan dari para donatur dan berbagai pihak dapat membantu meringankan beban yang dihadapinya, sehingga kedua anaknya tetap bisa bersekolah dan mengejar cita-cita mereka.

Melalui Program Borong Dangangan / Dukung Pelaku UMKM Kecil melalui momen kemerdekaan, Mari hadir bantu para UMKM kecil yang butuh bimbingan dalam mengembangkan usahanaya, Sedikit dari kita, bisa menjadi harapan besar bagi mereka.

    Belum ada update

Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!