Cegah Stunting Sejak Masa Kehamilan !

Kekurangan gizi pada ibu selama kehamilan adalah salah satu faktor penyebab timbulnya stunting. Stunting merupakan hambatan pertumbuhan dan perkembangan anak yang bersifat permanen (irreversible) dan ditandai dengan perawakan anak pendek atau tinggi badan menurut umur (TB/U) dibawah -2 standar deviasi (SD).

Asupan makronutrien dan mikronutrien yang tidak sesuai dengan kebutuhan ibu saat hamil dapat memicu terjadinya keguguran, gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan, kecacatan, kelahiran prematur, dan berat badan bayi lahir rendah. Berat badan bayi lahir rendah yakni kurang dari 2.500 gram diketahui sebagai prediktor kejadian stunting di masa depan.

Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG), seorang ibu hamil berusia 19 hingga 49 tahun membutuhkan sekitar 2450 – 2550 kkal energi setiap hari yang utamanya berasal dari 349 – 363 g karbohidrat, 76 – 77 g protein dan 70-85 g lemak. Selain makronutrien, ibu hamil juga memerlukan mikronutrien penting seperti berbagai vitamin dan mineral terutama zat besi, kalsium, yodium, zinc dan asam folat.

Kebutuhan gizi ini dapat dipenuhi apabila ibu hamil sehari-hari mengonsumsi 3 porsi karbohidrat, 3-4 porsi protein dan lemak hewani dan atau nabati, 3-4 porsi sayur, 4-5 porsi buah, 11-12 gelas air putih serta tambahan tablet zat besi, asam folat dan kalsium. Jangan lupa agar ibu melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali yakni 1 kali pada trimester pertama dan kedua dan 2 kali pada trimester ketiga. Pemantauan kenaikan berat badan selama hamil juga penting agar anak lahir sehat dan berat badan lahir cukup, tercegah dari stunting.

Pemberian nutrisi yang tepat setelah kelahiran bayi berperan penting dalam pencegahan stunting. Akan tetapi, angka capaian proporsi pemberian ASI eksklusiv di Indonesia tahun 2018 masih rendah yakni, 37,3%.

ASI saja tanpa makanan atau minuman lain (ASI eksklusiv) merupakan nutrisi terbaik untuk memenuhi kebutuhan energi bagi bayi baru lahir hingga usia 6 bulan. Selanjutnya, ASI diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Kandungan laktosa, protein, asam lemak, vitamin, mineral, di dalam ASI sangat cocok untuk pencernaan bayi. Immunoglobulin, laktoferin, enzim dan mikrobiota ASI terlibat pada proses kekebalan tubuh sehingga melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi dan alergi. Hormon, faktor pertumbuhan dan beragam bioaktiv lain mengoptimalkan tumbuh kembang bayi.

Di usia tepat 6 bulan, kebutuhan gizi bayi tidak lagi tercukupi oleh ASI saja, sehingga bayi diberikan Makanan Pendamping ASI. Pemberian MP ASI haruslah tepat dari aspek jadwal, jenis dan jumlah makanan yang diberikan. Bahkan, cara pemilihan, penyimpanan dan pengolahan bahan makanan yang baik sangat penting dalam membuat MP ASI. Kecukupan makro dan mikronutrien menjadi tolak ukur kecukupan gizi MP ASI bagi anak.

MP ASI yang diberikan dengan cara yang tepat tanpa tanpa paksaan akan menjadi penentu nafsu makan anak. Maraknya MP ASI instan di media sosial menjadikan para orang tua sangat antusias terhadap pemberian MP ASI. Promosi klaim “nutrisi untuk otak” menjadikan makanan impor menjadi primadona meski berharga mahal. Padahal, terdapat beragam bahan makanan lokal bergizi tinggi di sekitar kita sebagai sumber MP ASI.

Pemberian nutrisi yang tepat setelah kelahiran bayi berperan penting dalam pencegahan stunting. Akan tetapi, angka capaian proporsi pemberian ASI eksklusiv di Indonesia tahun 2018 masih rendah yakni, 37,3%.

ASI saja tanpa makanan atau minuman lain (ASI eksklusiv) merupakan nutrisi terbaik untuk memenuhi kebutuhan energi bagi bayi baru lahir hingga usia 6 bulan. Selanjutnya, ASI diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Kandungan laktosa, protein, asam lemak, vitamin, mineral, di dalam ASI sangat cocok untuk pencernaan bayi.

Immunoglobulin, laktoferin, enzim dan mikrobiota ASI terlibat pada proses kekebalan tubuh sehingga melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi dan alergi. Hormon, faktor pertumbuhan dan beragam bioaktiv lain mengoptimalkan tumbuh kembang bayi.

Di usia tepat 6 bulan, kebutuhan gizi bayi tidak lagi tercukupi oleh ASI saja, sehingga bayi diberikan Makanan Pendamping ASI. Pemberian MP ASI haruslah tepat dari aspek jadwal, jenis dan jumlah makanan yang diberikan. Bahkan, cara pemilihan, penyimpanan dan pengolahan bahan makanan yang baik sangat penting dalam membuat MP ASI.

Kecukupan makro dan mikronutrien menjadi tolak ukur kecukupan gizi MP ASI bagi anak. MP ASI yang diberikan dengan cara yang tepat tanpa tanpa paksaan akan menjadi penentu nafsu makan anak. Maraknya MP ASI instan di media sosial menjadikan para orang tua sangat antusias terhadap pemberian MP ASI.

Promosi klaim “nutrisi untuk otak” menjadikan makanan impor menjadi primadona meski berharga mahal. Padahal, terdapat beragam bahan makanan lokal bergizi tinggi di sekitar kita sebagai sumber MP ASI.

—

Oleh : dr. Zuhrah Taufiqa, M. Biomed

Dokter dan Konselor Gizi – Makanan Pendamping ASI Klinik My Lovely Child Mahasiswa Program Doktor Ilmu Gizi FK Universitas Indonesia.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram